Saat Nafsu Merasuki Kami

Perjalanan rumah tanggaku dengan Ratna (nama samaran), awalnya berjalan tanpa adanya konflik yang berkepanjangan, namun sejak kehadiran Ririn (juga bukan nama sebenanrnya), adik sepupu Ratna dan suaminya di rumahku, keadaan rumah tanggaku yang tentram mulai terusik dan mungkin bisa dibilang diambang kehancuran.
Kehadiran Ririn di rumah kami memang atas permintaan Ratna. Saat itu Ririn yang baru saja menikah cukup kesulitan untuk mendapatkan rumah kontrakan yang harganya bisa terjangkau olehnya. Karena rumah kami cukup besar, istriku akhirnya menyarankan Ririn dan suaminya untuk tinggal di rumah kami sampai mereka dapat menemukan rumah kontrakan yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka. Rupanya itulah awal dari ketidak harmonisan rumah tangga kami.


Sebenarnya benih-benih ketidak harmonisan itu sudah terasa sebelum kehadiran Ririn, ketidak harmonisan itu muncul sejak istriku tak lagi bisa melayaniku dengan baik seperti sebelumnya, padahal sebelumnya  Ratna merupakan sosok yang lumayan bertanggung jawa terhadap kewajibannya dalam berumah tangga. Namun entah mengapa beberapa bulan belakangan ia sepertinya tak begitu respek terhadap keinginanku, terutama dalam pelayanannya diatas tempat tidur.

Namun saat itu keinginan untuk berselingkuh sama sekali tak terbesit dalam hatiku. Selain takut, aku juga tak ingin menghianati kesetiaan Ratna. Rupanya rasa takut dan kesetianku mulai luntur dengan kehadiran Ririn. Adik sepupu istriku itu memang masih teramat muda, usianya yang baru 21 tahun dan fisiknya yang sempurna ditambah ia baru saja menikah. Hal itu membuat hasrat kelelakianku yang lama tak terpenuhi mulai menggelegak dan sulit untuk dikontrol.

Perselingkuhan pertama terjadi saat aku memutuskan untuk pulang dari tempat pekerjaanku lebih awal dari biasanya. Sesampai dirumah aku hanya mendapati Ririn yang sedang menonton TV di ruangan depan. Ririn yang saat itu hanya mengenakan celena pendek dan T-shirt terlihat begitu menggoda dan membuat aku berkali-kali menelan air liur. “Hai mas, tumben udah pulang, Mba Ratnanya nggak ada, katanya pulangnya agak malem,” ucap Ririn saat itu.

Mendengar itu aku bukanya kecewa, justru malah sebaliknya. “Ya udah biarin aja,” jawabku. Selanjutnya, setelah berganti pakaian, aku langsung menuju ruangan depan dan ikut menyaksikan apa yang sedang ditonton Ririn, “Film apa Rin, kok serius banget nontonya,” tanyaku berbasa-basi, padahal saat itu aku sudah tahu apa yang sedang ditonton Ririn. “Sini mas, filmnya bagus, film romantis,” jawabnya saat itu.

Beberapa saat kemudian kami terdiam dalam pikiran masing-masing, namun saat adegan berciuman terpampang di layar televisi, darahku mendadak mengalir dengan cepat. “Ih, jadi kepengen,” tiba-tiba saja Ririn berkomentar. “Ntar malem juga dapet,” kataku memancing. Selanjutnya tanpa kuduga meluncur pengakuan Ririn tentang keadaan suaminya yang tak mampu memberi nafkah bathin kepadanya.

Saat itu kesempatan untuk berselingkuh semakin terbuka lebar, saat kudekati dan kusentuh bahunya Ririn sama sekali tak menghindar. Padahal saat itu aku hendak memberinya nasehat agar ia bersabar. Namun setelah Ririn bersandar di bahuku, niatan untuk menasehatinya berubah menjadi niat untuk merasakan kehangatan tubuhnya.

Selanjutnya keadaan semakin tak terkendali, aku mulai berani menciumi lehernya dan meraba-raba bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Saat itu Ririn sama sekali tak berusaha untuk menghindar, ia hanya melenguh dan mendesah. Tubuhnya semakin menggeliat saat aku mulai meneluspkan tangaku ke balik pakaiannya. Tak terasa kami akhirnya melepaskan pakaian masing-masing, saling memanggut dan bergumul di ruang tengah, hingga akhirnya kami berdua sama-sama meraih puncak kenikmatan.
Saat itu Ririn sama sekali tak menyesali apa yang sudah kami lakukan, ia cuma merasa takut jika perbuatan itu akhirnya diketahui oleh istriku dan suaminya. Namun rasa takut itu berangsur-angsur hilang seiring dengan semakin seringnya ia mendapatkan kepuasan dari perselingkuhan itu, Ririn tak lagi perduli apakah perbuatan itu kelak akan terbongkar atau tidak, sementara aku terus berusaha agar perselingkuhan itu tak terbongkar, karena aku tak ingin bercerai dengan istriku.
Belakangan aku merasa kewalahan dengan nafsu biologis Ririn, ia mulai tak perduli dengan keadaan rumah. Saat keinginan bioligisnya muncul, saat itu juga keinginanannya harus dilampiaskan. Aku juga mulai dihinggapi perasaan berdosa terhadap istriku dan juga terhadap suami Ririn, aku ingin mengakhiri perselingkuhan ini. tapi sampai saat ini aku belum mendapatkan cara yang tepat, agar Ririn mau melepaskan aku dari perangkapnya nafsunya yang semakin tak terkendali.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment